Guru Dan Gaji

Table of Contents

Guru Dan Gaji

Seorang konsultan di sebuah manajemen berkelas internasional memutuskan untuk mundur dan beralih profesi jadi guru. Dalam pengakuannya di minggu pertama, dia berkata,

“Dalam satu minggu, gaji aku beralih dari

‘Yang benar saja? Saya dibayar sebanyak ini?’

menjadi

Guru Dan Gaji

‘Wah! Bagaimana mungkin seorang guru mencukupi kebutuhannya?’

Dua orang teman, sambil ngopi menanti orderan ojek online, share kisah.

A : Lihat nih, sambil perlihatkan sebuah gambar bersama dengan dua frame bertuliskan

“Dibayar mahal untuk mengakibatkan kerusakan akhlak anak-anak.”,

dan

“dibayar murah dituntut untuk melakukan perbaikan karakter dan akhlak anak-anak”

B : Bener banget. Kita ‘berkeringat’ membangun fondasi akhlak yang baik, mereka kaburkan bersama dengan ukuran yang berbeda. Tapi, enjoy saja kawan. Hidup itu yang penting cukup.

A : Sebagai guru sekolah swasta ternama, papa bisa saja menjelaskan cukup. Saya, cuma guru honorer. Untuk bayar listrik dan transport tiap tiap hari saja tetap kurang. Belum cicilan motor, jajan anak, dan lain-lain. Bahkan, saudara aku yang di kampung, lebih memprihatinkan lagi.

B : Tapi tetap memadai kan?

A : Alhamdulillah…

B : Itulah hebatnya seorang guru. Orang-orang menyebutnya sebagai berkah. Kadang-kadang diakui keajaiban. Bayangkan, gaji cuma 400ribu, bisa menghidupi dua anak, bayar cicilan, uang saku sekolah anak, dan lain-lain, dan hebatnya ulang kebanyakan tetap bisa menyimpan.

A : Itu kan pinter-pinternya kami aja yang atur. Kalau tidak, sudi makan apa keluarga kita? Belum lagi, kadang-kadang gak dibayar dua bulan sebab BOS belum turun.

B : Sudut pandang seorang gurulah yang hebat. Ketika memutuskan jadi guru, maka langkah menyaksikan uang dan harta telah berubah. Lebih khusus lagi, caranya jadi senang telah meningkat. Jika tetap banyak orang yang menggantungkan kebahagiaan terhadap harta, maka guru tidak. Ya, tidak terkait terhadap besarnya harta saja, melainkan lbih kepada nilainya. Selain sebenarnya begitu seharusnya, yang “buat gantungan” terhitung nggak ada. Hehe…. bercanda dul…

A : Maksudnya? Kita kudu bahagia-bahagia aja bersama dengan gaji segitu?

B : Iya. Guru kudu bahagia. Lihatlah guru, alih-alih Mengenakan sepatu mahal, handphone mahal, dan apalagi berlian yang mahal. Guru memadai menyaksikan fungsi, kenyamanan, dan kepantasan terhadap barang. Bahkan, sepatu karet pun telah memadai asalkan nyaman untuk berjalan, berdiri lama, dan pantas dilihat. HP terhitung standar. Guru telah meningkat dalam memaknai bahagia. Tidak ulang terkait terhadap bagusnya materi.

A : Tetanggaku, guru juga. Tapi di provinsi *$*. Kayaknya gajinya gede. Jalan-jalan tetap tiap tiap minggu, memiliki mobil. Sama kayak temennya temenku. Dia di sekolah swasta yang mapan. Eh…. PNS kayaknya terhitung besar gajinya. Apalagi kalau telah sertifikasi.

B : Memang, ada lebih dari satu area yang memberi tambahan gaji besar membuat guru. Juga sekolah swasta tertentu. Mereka bisa menyaksikan bahwa ujung tombak pendidikan adalah guru. Maka, membahagiakan dan menyejahterakan guru merupakan anggota penting melakukan perbaikan kualitas pendidikan. Tapi belum semua.

A : Itu dia. Seolah-olah kami dipandang serba cukup. Padahal, aku tiap tiap hari berfikir untuk melacak tambahan sehingga dapur tetap mengepul. Di area aku mengajar, ada yang pulang sekolah langsung “narik” ojek online, terhitung saya. Ada yang langsung jualan di pasar. Ada yang calo tanah. Ada yang les ke rumah-rumah. Masih banyak lah yang lain. Sekarang bandingkan bersama dengan seorang penjaga toko yang cuma lulusan SMA saja, gaji aku kalah jauh.

B : Tapi tetap ikhlas, kan, jadi guru?

A : Begini ini, bang. Bahas gaji, guru diakui tidak ikhlas. Kalau bahas gaji bermakna pamrih, padahal guru kudu tanpa pamrih. Seolah-olah, cuma profesi guru yang paling tidak boleh mengkaji gaji. Profesi lain, apa pun bentuknya, diakui pantas mengkaji gaji sampai sudi turun ke jalan.

B : Bukan begitu, kawan. Saya cuma tanya, papa tetap ikhlas jadi guru, kan?

A : Betul. Kita tetap menanamkan ikhlas di hati kita. Saya jadi guru sebab menginginkan mengabdi dan menggapai keberkahan.

B : Sayangnya, keikhlasan guru sering dipandang “positif”. Seolah-olah tidak butuh gaji besar, terhitung guru seolah-olah tidak membutuhkan biaya hidup yang besar juga.

A : Belum lagi, kami dituntut yang macam-macam. Administrasi kudu selesai. Mengajar kudu bagus. Nilai UKG kudu tinggi. Belum lagi, kalau ada orangtua murid yang protes ini itu. Di sekolah, tidak ada pelatihan membuat guru. Selesai mengajar, kami mengejar pendapatan tambahan. Kalau tidak cari tambahan, “Apa kata dunia?” kami sudi makan apa?. Saya guru honorer, teman aku telah PNS. Beban mengajarnya sama. Tapi, gajinya jauh banget.

B : Ini yang aku khawatirkan juga. Tidak cuma kualitas guru yang sukar meningkat. Jika guru digaji rendah, pas keperluan hidup meningkat bersama dengan cepat. Maka, kelak siapa yang sudi jadi guru? Siapa yang mendidik anak-anak kita?

A : Untungnya, aku tidak kudu repot mengayalkan pendidikan anak. Sekolah area aku mengajar memberi tambahan pendidikan gratis membuat anak guru. Alhamdulillah.

B : Alhamdulillah. Betul. Kita, guru, terlalu senang kalau bisa mendidik anak-anak. Kebahagiaan terbesar seorang guru adalah dikala menyaksikan muridnya lebih sukses dari kita. Melihat murid kami bisa jadi teladan bagi orang lain. Juga terlalu senang kalau murid kami bisa optimis menatap jaman depan.

A : Inilah yang membuat aku tetap bersemangat tiap pagi mengendarai motor matic second ini ke sekolah. Alhamdulillah tetap bisa mengajarkan kebaikan bersama dengan kemampuan terbaik yang aku miliki. Semoga berkah membuat saya, mereka, dan masyarakat.

Bagi guru, gaji itu bisa terlalu banyak dan berkah. Meski gaji cuma 500ribu, misalnya, tetapi Allah merawat kesehatan kita. Allah mengirimkan rezeki dari arah yang tidak dulu kami duga untuk mencukupi keperluan kita. Kadang bisa sembako gratis, pakaian batik gratis. Alhamdulillah.

B : Guru tetaplah kudu bahagia. Jika tidak bahagia, lihatlah satu atau dua th. lagi. Pasti telah berubah profesi. Rasa bersyukurlah, yang membuat guru bahagia. Hanya saja, guru menginginkan bisa share kebahagiaan lebih banyak bersama dengan orang lain. Jika kesejahteraannya terpenuhi, insya Allah permintaan itu lebih gampang diwujudkan.

Ingat, Yang menjamin hidup kami bukan pemerintah atau pemilik sekolah, tetapi Allah yang Maha Kaya. Berdoalah sehingga tetap kuat mendidik generasi bangsa ini. Berdoalah sehingga tetap kuat melacak rezeki yang halal.

Mereka tetap ngobrol, tetapi bersama dengan tema lain. Terkadang sepak bola, hobi, dan cuma sesekali masalah-masalah sosial yang ulang ramai. Seringnya, mereka ngobrol betul-betul berkenaan “peluang bisnis” online dan lahan area tingkatkan penghasilan.

Jangankan mikir metode pembelajaran yang bagus, psikologi anak, atau manajemen kelas. Memikirkan diri saja tetap dikejar-kejar…

Sumber : https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/