IGI Tolak Pendidikan Antikorupsi Jadi Mapel Baru

IGI Tolak Pendidikan Antikorupsi Jadi Mapel Baru

IGI Tolak Pendidikan Antikorupsi Jadi Mapel Baru

IGI Tolak Pendidikan Antikorupsi Jadi Mapel Baru

Wacana dibuatnya mata pelajaran (mapel) soal pendidikan antikorupsi,

mendapat sorotan dari Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim, menolak jika pendidikan antikorupsi dijadikan mapel baru. Tetapi, harus dimasukkan dalam semua mata pelajaran. “Kami tidak setuju jika dibuat mata pelajaran baru, karena jumlah mata pelajaran yang ada sekarang saja sangat banyak dan ini akan menjadi masalah besar,” katanya. Ramli menuturkan, banyaknya mapel tentu akan berimplikasi pada kekurangan guru.

Untuk SMP di daerah dengan jumlah murid terbatas, tentu hanya membutuhkan tiga rombel

dengan total sangat banyak yakni 16 guru. Sebab, jika masing-masing guru mengajar per mata pelajaran, maka akan menambah jumlah guru.

Untuk itu, Ramli mengimbau pemerintah mengemas materi pendidikan antikorupsi untuk dimasukkan pada semua mata pelajaran serta dikolaborasikan dengan menanamkan nilai-nilai lokal. Terpisah, Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rochmat Wahab, mengatakan, pendidikan antikorupsi itu sangat penting.

Ini sebagai langkah pencegahan timbulnya kecenderungan perilaku korupsi pada waktu individu usia dewasa.

“Jika pendidikan antikorupsi itu dianggap penting diberikan kepada anak-anak, maka strategi yang sangat efektif adalah melatih anak untuk tidak melakukan cheating dan plagiasi sedini mungkin terkait aktivitas akademik.

Jika melakukan baik sendiri maupun bersama, maka perlu diberikan sanksi yang mendidik,” kata Rochmat. Selanjutnya, ia juga mengatakan, anak harus membiasakan melaporkan sesuatu apa pun. Baik itu berbentuk uang atau barang lainnya yang ditemukan di manapun tempatnya dan bukan milik dan haknya.

 

Baca Juga :