Ortu Gengsi Anak Masuk Jalur Miskin, Dispendik Kaget Kuota Masih Tersisa

Ortu Gengsi Anak Masuk Jalur Miskin, Dispendik Kaget Kuota Masih Tersisa

Ortu Gengsi Anak Masuk Jalur Miskin, Dispendik Kaget Kuota Masih Tersisa

Ortu Gengsi Anak Masuk Jalur Miskin, Dispendik Kaget Kuota Masih Tersisa

Hasil penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMPN jalur siswa miskin benar-benar di luar dugaan

Senin (10/7). Kesempatan emas untuk anak-anak keluarga prasejahtera itu ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik. Kuota masih tersisa.

Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik menyiapkan total kuota 347 untuk jalur siswa miskin tersebut. Namun, kursi siswa baru untuk jalur itu hanya terisi 314. Kurang 33 anak. Banyak orang tua dan calon siswa yang tidak memanfaatkan kesempatan tersebut.

SMPN 1 Gresik, misalnya. Yang masuk hanya lima orang dari 16 kursi. Masih kurang sebelas kursi. ’’Yang daftar hanya lima orang di jalur itu,’’ ujar Kepala SMPN 1 Gresik Djamali.

Di sekolah favorit yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto tersebut

, pendaftar jalur reguler mencapai 607 anak. Mereka berebut 315 kursi. Artinya, lebih dari setengah pendaftar terlempar dari persaingan.

SMPN 1 Manyar juga demikian. Di antara 14 kursi yang disiapkan untuk siswa miskin, yang masuk cuma sepuluh orang. Kurang empat kursi. Bahkan, di SMPN 1 Tambak, Pulau Bawean, tidak ada seorang pun siswa miskin yang mendaftar. Kuota enam kursi sia-sia. (Selengkapnya lihat grafis).

Kepala Dispendik Gresik Mahin mengaku tidak menyangka banyak calon siswa yang tidak memanfatkan jalur keluarga prasejahtera sebagai tiket masuk SMP negeri. Padahal, persaingan di jalur itu jauh lebih ringan daripada jalur reguler. ’’Jalur khusus kami siapkan agar anak dari keluarga tidak mampu bisa lebih banyak diterima,’’ paparnya.

Mahin sangat menyayangkan kondisi tersebut. Padahal, jalur siswa miskin bertujuan

menampung lebih banyak siswa dari latar belakang keluarga prasejahtera. Jadi, siswa miskin lebih banyak tertampung di sekolah negeri. Pembukaan jalur siswa miskin dengan kuota 5 persen dari total pagu merupakan keputusan Bupati Sambari Halim Radianto.

’’Baru tahun ini diberlakukan. Ternyata tidak banyak calon siswa yang memanfaatkannya,’’ ujar Mahin.

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dispendik Gresik Nur Maslichah mengungkapkan, banyak faktor yang mengakibatkan pagu jalur siswa miskin tidak terpenuhi. Faktor dominan, ungkap dia, muncul karena rasa gengsi orang tua atau wali murid. Mereka malu dianggap sebagai keluarga tidak mampu atau miskin.

’’Padahal, kenyataannya kondisi ekonomi memang tidak mampu. Sebaiknya tidak gengsi,’’ imbuhnya.

Sebab, setelah masuk sekolah, para siswa tidak akan dibedakan. Seluruh siswa dari kalangan tidak mampu akan bergaul dengan siswa lain.

Karena gengsi, ujar Nur Maslichah, para orang tua murid merasa lebih baik mendaftarkan anaknya melalui jalur reguler. Padahal, persaingan di jalur tersebut sangat ketat. ’’Tidak sedikit calon siswa dari keluarga miskin kalah bersaing dengan siswa keluarga kaya,’’ tuturnya.

Di sisi lain, puncak seleksi PPDB jenjang SMPN terjadi Rabu (12/7). Seleksi jalur reguler diumumkan serentak di 32 SMPN. Ada 9.275 siswa yang mengikuti tes potensi akademik (TPA). Selain diumumkan dalam websitegresik.siap-ppdb.com, pengumuman kelulusan dilakukan di masing-masing lembaga

 

Baca Juga :