Ransomware Merajalela, Lagi!

Ransomware Merajalela, Lagi!

Ransomware Merajalela, Lagi!

Ransomware Merajalela, Lagi!

Anak muda 21 tahun yang wajahnya tertutup masker itu menunjukkan tanda-tanda bosan.

Gerak tubuhnya terlihat santai. Tak terlihat penyesalan meski saat itu ia dihadapkan pada media dengan barang-barang bukti kejahatannya.

Dia juga dengan ringan menolak bekerja sama dengan polisi siber yang menangkapnya, seolah penjara merupakan hal wajar dan malah bisa meningkatkan levelnya sebagai hacker. Atau mungkin dia merasa masih punya tabungan bitcoin yang belum disita polisi sehingga merasa aman secara finansial, meski harus mendekam di bali jeruji.

Anak muda itu berinisial BBA. Pemuda asal Sleman itu ditangkap pada akhir Oktober lalu

atas tuduhan kejahatan siber berlapis dengan ransomware. Korbannya adalah perusahaan tambang di Amerika Serikat.

Dari diskusi-diskusi saat mengikuti program IVLP (International Visitor Leadership Program/Program Pertukaran Profesional) 2019, saya mengetahui bahwa saat ini ransomware menjadi momok di AS, terutama bagi penyelenggara kota.

Berdasarkan data States Coop, pada tahun ini saja jumlah korbannya telah mencapai 97 kasus,

mencakup kota-kota seperti Lake City, Riviera Beach, Baltimore, Cleveland, Augusta, Tallahassee, Albany, Jackson County. Kasus terbaru adalah serangan kepada 22 kota di negara bagian Texas.

Walau secara umum serangan ini melibatkan algoritma penyandian yang mengunci file dan sistem komputer, ada pula model pemerasan dengan menggunakan spyware.

Pada modus kedua, para hacker akan memata-matai korban dengan mengambil-alih kamera dan mikrofon laptop, merekam aktivitas pribadi dan mencuri kata sandi surel. Hacker-hacker ini lalu meminta tebusan agar data-data serta pantauan aktivitas pribadi yang sukses dicuri tidak disebar luas. Misalnya yang terjadi dalam contoh di bawah.

 

Baca Juga :