Razer Phone, 120 Hertzzz Paling Ngebut

Razer Phone, 120 Hertzzz Paling Ngebut

Tidak banyak smartphone yang mampu predikat smartphone gaming. Kalau dulu dulu tersedia Nokia N-Gage dan Sony Xperia Play, sekarang tersedia ulang penerus predikat smartphone gaming. Ya, Razer Phone! Apakah smartphone ini mampu tawarkan experience yang lebih oke dibanding flagship lain atau lebih-lebih handheld gaming seperti Nintendo Switch? Ini dia jawabannya!

Razer Phone

Desain

Desain Razer Phone terlampau sama bersama Nextbit Robin. Tidak heran dikarenakan smartphone ini sebenarnya buatan Nextbit yang sudah diakuisisi Razer. Tak harus basa-basi, kami bilang smartphone ini enak di mata, tapi tidak enak di tangan.

Razer Phone adalah smartphone yang cowok banget. Desainnya kotak kaku, warnanya hitam doff, dimensinya besar, agak tebal, dan sudut-sudutnya lancip. Ya, jadi kecuali hanya dicermati saja, smartphone ini menjadi elite banget. Tapi kala dipegang, jadi membuat repot.

Alasannya seperti yang sudah kami sebutkan tadi. Smartphone ini punya layar 5,7 inci 16:9 bersama bezel atas dan bawah yang lumayan. Otomatis membuat dimensinya besar. Bodinya juga tebal serupa Sony Xperia. Dan yang paling parahnya adalah bodinya super licin dan sudut-sudutnya menusuk tangan.

Bagian yang licin bukan hanya belakangnya saja, tapi sisi-sisinya juga terlampau licin. Bikin ngeri jatuh. Jadinya agak aneh, bersama sebutan smartphone gaming, smartphone ini tambah kurang enak membuat dipakai nge-game lama-lama. Waktu 10-15 menit rasanya sudah lumayan untuk merasakan sakit di tangan.

Penderitaannya belum berhenti hingga di situ. Biasanya kami selamanya mengfungsikan casing sehingga grip-nya jadi lebih enak. Dan dikarenakan Razer adalah pendatang baru, jadi mencari casing-nya terlampau sulit. Sebenernya tersedia casing resmi yang dijual terpisah. Tapi selamanya saja jarang yang jual and harganya di atas Rp500 ribu.

Sementara membuat pemanfaatan sehari-hari, hal lain yang membuat kurang nyaman adalah tombol fisiknya. Tombol power dan volume terlampau ke bawah. Yang lebih tidak nyaman adalah tombol power-nya yang flat dan kesusahan diraba. Jadi kecuali belum biasa, kami harus mencari dulu dimana posisinya. Oh ya, tombol ini juga berguna sebagai sensor fingerprint, serupa Sony Xperia.

Sekadar info, Razer Phone tidak punya sertifikat tahan air dan debu. Dan smartphone ini juga tidak dilengkapi jack audio dikarenakan area membuat jack audio ini diisi baterai besar and sistem pendingin. Razer juga mengimbuhkan bonus adapter audio bersama DAC 24-bit kecuali senang mengfungsikan earphone eksternal.

Di antara segala hal yang membuat tidak nyaman, untungnya masih tersedia satu hal yang menyenangkan, yaitu dua grill speaker yang langsung nembak ke telinga, tersedia di atas dan bawah. Posisinya aman, jadi tidak akan ketutupan tangan kita.

Software

Mungkin dikarenakan malas atau tidak sempat mengembangkan UI sendiri, Razer kelanjutannya berpartner bersama Nova untuk mengfungsikan Nova Launcher di Razer Phone. Buat kami, ini adalah kabar yang bagus dikarenakan merupakan pilihan yang tepat.

Rasanya terlampau jarang pengguna yang tidak bahagia Nova Launcher. UI ini tawarkan experience dan juga tampilan serupa stock Android, tapi bersama kustomisasi lebih banyak. Bisa ganti warna background, ganti ukuran font, ganti ikon, dan lain-lain.

Razer juga menyediakan lumayan banyak tema berbau game yang mampu di-download gratis sesudah membuat account Razer lebih-lebih dulu. Hal lain yang kami suka, smartphone ini tidak bawa bloatware serupa sekali.

Dan dikarenakan ini adalah smartphone gaming, jadi kami akan menemukan satu fitur esensial, yaitu Game Booster yang tersedia di menu settings maupun App Drawer. Fitur ini punya built-in mode dont disturb biar kami tidak terganggu telpon atau notif masuk kala main game.

Ada juga opsi untuk sesuaikan konfigurasi hardware kala nge-game. Bisa diatur secara default untuk seluruh game atau diatur per judul game. Opsi yang mampu kami ganti menjadi berasal dari resolusi layar, clockspeed CPU, frame rate, and satu ulang anti aliasing untuk makin menghaluskan grafis.

Hardware

Karena bawa predikat smartphone gaming, jadi sudah tentu Razer membekali spesifikasi monster di smartphone ini. CPU-nya mengfungsikan Snapdragon 835, RAM 8 GB, storage hanya 64 GB, dan baterai 4.000 mAh. Sekilas speknya serupa lagship lain, contohnya OnePlus 5T yang sudah pasti juga ngacir membuat gaming. So, hal apa yang membuat beda?

Jadi yang membuat Razer Phone disebut smartphone gaming, yang pertama adalah layarnya. Ini adalah smartphone pertama di dunia bersama layar IGZO Quad HD yang punya refresh rate 120 Hz, bukan standar 60 Hz. Kalau di PC serupa teknologi NVIDIA G-Sync atau AMD Freesync.

Manfaatnya mampu kami rasakan kala scrolling layarnya, luar biasa smooth seperti halnya iPad Pro. Buat main game juga menjadi terlampau smooth. Tapi sayangnya tidak mampu dicermati dan dirasakan melalui lensa kamera. Harus cobalah sendiri secara langsung.

Razer juga tawarkan opsi untuk ganti resolusi layar dan refresh rate layarnya. Untuk resolusinya mampu diturunkan ke HD atau Full HD. Sementara refresh rate mampu turun ke 60 atau 90 Hz. Kenapa tersedia opsi ini? Pastinya untuk menghemat baterai.

Refresh rate yang menggapai 120 Hz ini akan membuat pengalaman bermain game jauh lebih mengasyikkan dan memuaskan. Pasalnya tampilan permainan jadi luar biasa smooth tanpa lag, tanpa stuttering atau sendatan.

Selain layar yang kece, Razer Phone juga punya speaker yang edan, yang paling kencang, tajam, dan detil di kelas smartphone. Plus juga tersedia sertifikat Dolby Atmos dan THX. Kami sendiri tak dulu mengfungsikan volume maksimal. Volume 50-70 prosen sudah lumayan untuk nge-game atau mendengarkan musik tempat tinggal atau di dalam kamar.

Sedikit catatan, kala main game berat bersama durasi di atas 15 menit, bodi belakangnya menjadi panas, lebih-lebih di area dekat logo Razer. Hal ini sepertinya wajar, dikarenakan kami juga merasakan panas yang selevel kala main game di iPhone X.

Satu hal yang harus diapresiasi adalah baterainya. Main game berat setengah jam, baterainya menyusut lebih kurang 10-15 persen, yang artinya mampu dibilang awet. Kalau untuk pemanfaatan normal bersama satu SIM card dan nge-game tidak terlampau sering, SOT-nya mampu mampu 5-6 jam. Tidak mengecewakan mengingat speknya tinggi banget.

Untuk pengisian dayanya, Razer menyediakan power adaptor Quick Charge 4 di dalam paket penjualan bersama kekuatan 24A. Charger ini mampu isi 50 prosen di dalam kala 40 menit atau isi full sepanjang 1,5 jam.

Kamera

Jangan terlampau menghendaki kamera superior di smartphone gaming. Walaupun di atas kertas speknya kekinian bersama dual-camera 12 MP f/1.8 untuk lensa utama dan f/2.6 untuk lensa telephoto, tapi fitur dan kualitasnya terlampau standar. Kameranya ini punya PDAF, tapi tanpa OIS.

Aplikasi kamera yang dipakai di Razer Phone adalah Google Camera. Tidak tersedia pilihan mode selain auto. Bahkan mode portrait yang biasa tersedia di smartphone dual-camera juga belum ada. Benar-benar minim opsi.

Tapi katanya sih mode portrait atau bokeh kala ini sedang digarap dan akan nampak melalui upgrade OS Android Oreo di kuartal pertama 2018 nanti. Jadi bersama kata lain, dual-camera Razer Phone masih belum berguna untuk kala ini.

Buat selfie, kamera depannya beresolusi 8 MP f/2.0 fixed focus dan tidak tersedia mode beautify. Untuk hasil jepretannya kurang lebih serupa seperti kamera belakangnya. Standar membuat kategori smartphone flagship.

Kesimpulan

Bisa disimpulkan, sebenarnya spek Razer Phone tak beda jauh berasal dari flagship Android lainnya. Dua hal yang membuat smartphone ini disebut smartphone gaming, yaitu layar yang support 120 Hz dan speaker stereo paling baik di kelas smartphone. Selebihnya, Razer Phone masih harus banyak perbaikan, lebih-lebih berasal dari sisi ergonomi dan kamera.

Selengkapnya : https://www.caraflashandroid.com/cara-hack-wifi-di-android/