Sebagian Besar Anak Indonesia ‘Salah Asuh’

Sebagian Besar Anak Indonesia ‘Salah Asuh’

Menjadikan anak yang sukses dan sukses, pasti menjadi khayalan para orang tua. Di sisi lain, orang tua sering luput menyadari bahwa anak-anak mempunyai minat dan bakatnya sendiri. Terkadang, yang terjadi dalam masa tumbuh kembang anak, orang tua terlampau memaksakan kehendak mereka pada anak.

Hal itu selaras dengan hasil riset yang dilaksanakan Anchor Boneeto mengenai sikap, perilaku, aspirasi, dan tokoh panutan anak sekolah dasar antara umur 7-12 tahun di Indonesia.

Penelitian berjudul Understanding Indonesian Kids tersebut mengungkap kenyataan bahwa anak-anak Indonesia ingin dibesarkan dengan keterbatasan sosial.

Mereka mendapatkan desakan sosial, punya keterbatasan bermain di luar rumah, dan semata-mata konsentrasi pada pencapaian akademis sampai-sampai menghambat perkembangan bakatnya.

Di sisi lain, riset tersebut pun mengungkap pola asuh di Indonesia yang ingin tradisional, masih memberi batas anak beradaptasi di dunia modern. Imbasnya, urusan itu dapat menghambat pertumbuhan minat dan bakat anak.

Padahal, menurut keterangan dari Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Soedjatmiko, anak-anak sekolah dasar salah satu usia 7-12 tahun merasakan proses transformasi yang sangat intens dalam hidupnya.

“Pada etape ini, anak-anak sedang dalam etape mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang baru seiring dengan pertumbuhan jasmani mereka,” sebutnya dalam acara peluncuran kampanye ‘Tumbuh Aktif, Temukan Hebatmu’ di The Ice Palace, Lotte Shopping Avenue.

Di peluang yang sama, Psikolog Pendidikan Dr. Lucia RM Royanto, menyatakan bahwa anak-anak berusia 7-12 tahun mempunyai minat dan bakat besar dalam aspek kognitif, sosial, emosional dan fisik.

“Kemampuan beranggapan mereka dapat ditajamkan melalui stimulasi serta pengaruh dari lingkungan sekitar. Ini ialah periode transformasi yang sensitif,” ujar Lucia

Dia menambahkan bahwa pada etape ini, mayoritas anak Indonesia diagungkan dengan pola asuh yang tradisional. “Dengan kata lain, orang tua masih cemas dengan adaptasi anak di dunia canggih dan mereka konsentrasi pada pencapaian akademis di sekolah,” tutur Lucia, yang menambahkan itu dapat membatasi kemauan dan keperluan anak guna bereksplorasi.

“Padahal, keterampilan seorang anak guna berkembang akan membawa mereka ke sekian banyak pengalaman sebagai dasar yang kuat guna menggapai minat dan bakat mereka di masa depan.”

Oleh sebab itu, Lucia juga berbagi tips pola pengasuhan anak untuk menggapai minat dan bakat alami mereka. “Ini ialah peranan bareng antara orangtua dan pendidik di sekolah. Hal ini guna menjadikan anak-anak sebagai seseorang yang spesial melalui metodenya sendiri,” kata dia.

Selain tersebut langkah beda yang dapat dilaksanakan orang tua ialah menjadi guru dan psikolog terbaik untuk anak, sebab orang tua lah yang bertemu anak masing-masing harinya. Kemudian orangtua mesti bisa menggerakkan dan memperkuat kemampuan beranggapan anak, serta membekalinya dengan keyakinan diri.

“Harus menjadi model yang baik, misal bahwa mengajarkan anak tersebut ‘do as I do’, bukan ‘do as I say’,” ujar Lucia.

Di samping itu, yang terpenting menurut keterangan dari Lucia ialah bagaimana orangtua tidak memaksakan kehendak mereka terhadap pengembangan anak.

“Kalau memaksakan akan menciptakan anak tidak bahagia. Orangtua mesti memahami, masa mendatang anak itu, masa mendatang sendiri jadi biarkan mereka memilih dengan pengawasan. Jika berlebihan orang tua dapat membatasi. Membatasi bukan melarang,” sebut Lucia.

http://forum.gamexp.ru/externalredirect.php?url=https://www.pelajaran.co.id