Sejarah Lisan Asia Tenggara

  Sejarah Lisan Asia Tenggara

 Sejarah Lisan Asia Tenggara

Sejarah Lisan Asia Tenggara

Sejarah adalah dialog yang berkelanjutan antara masa kini

dan masa lampau untuk memahami dan merencanakan masa depan. Untuk menjamin mutu dialog tersebut, setiap sumber harus dibaca, diteliti, dan dipelajari. Asia Tenggara hidup dalam sumber lisan. Kekayaan yang tidak terhingga di wilayah ini dalam hal folklore, tradisi lisan, keterangan lisan, merupakan bukti dari suatu budaya lisan yang hidup dan sedang menemukan dirinya serta menemukan tempatnya diantara masyarakat lain di berbagai balahan bumi yang memiliki dan menghargai sumber lisan (James H. Morisson).

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kajian sejarah lisan, Allan Nevins merumuskan untuk pertama kalinya, sejarah lisan adalah suatu metodologi yang telah diterima oleh banyak peneliti, lembaga – lembaga pendidikan dan kearsipan di Asia Tenggara untuk menciptakan data sejarah bagi keperluan rekonstruksi masa lampau. Institute of Southeast Asian Studies ( ISEAS ) adalah yang pertama di Singapura yang melakukan serta menerbitkan transkripsi dari sejumlah hasil wawancara sejarah lisan.

Pada 404 SM Thucydides

Salah satu sejarawan kontemporer pertama mengemukakan kegunaan kesaksian lisan. Thucydides memilih untuk menulis peristiwa – peristiwa yang disaksikan dan dialaminya sendiri, yaitu Perang Peloponnesia, Allan Nevins, dan yang lainnnya yang mengikutinya, merasa terdorong untuk membela kredibilitas dan dapat diterimanya kesaksian lisan yang mereka kumpulkan.

Di Asia Tenggara sendiri kegunaan sejarah lisan

sedikit terhambat yaitu pertama, dalam masyarakat yang mementingkan perbedaan usia dan terutama kewibawaan, pewawancara akan sadar atas perbedaan kedudukan sosialnya terhadap yang diwawancarai, dan dengan demikian harus berusaha keras agar tidak diintimidasi oleh sikap orang yang diwawancarai itu yang berakibat hilangnya kontrol atas rencana wawancaranya. Kedua, dan yang lebih mendasar lagi Asia Tenggara tidak memiliki tradisi kesarjanaan yang independen.

Banyak peneliti sejarah di Asia Tenggara yang berusaha mengungkap sejarah-sejarah

Lisan di Asia Tenggara. Mereka menerapkan metodologis dalam penelitian sejarah lisan, melalui kegiatan wawancara. Stuktur wawancara yang dilakukan dapat dibedakan dalam 2 bagian, yaitu wawancara yang memfokuskan topik ,dan pendekatan pengalaman hidup (life history) yang menempatkan sejarah kehidupan seseorang dalam kontek sosial dan sejarah. Dalam membangun kisah dilakukan dengan mengumpulkan data kumulatif dalam sebuah wawancara, dan melalui wawancara lain dengan menggunakan pertanyaan yang lebih banyak dan teratur seakan-akan sebuah pelapisan dalam suatu cara yang tematik dan kronologis.

Wawancara kisah hidup yang dilakukan bukan hanya cerita

Otobiografi dan bukan sekedar sesi tanya jawab, melainkan ada diskusi interaktif yang berkembang antara pewawancara dan yang diwawancari dalam mambangun dalam sebuah teks ketika pewawancara mengajukan pertanyaan dan yang diwawancari mengingat-ingat, mengorganisasi pikiran dan merenungkan jawaban. Adapun syarat untuk membangun teks sejarah lisan adalah yang diwawancari harus memiliki kenangan mengenai suatu pengalaman untuk diceritakan kepada umum, dan memiliki sebuah kerangka konseptual dan analitis dalam mendekati pihak yang diwawancari.

Dalam situasi wawancara tertentu

kendala waktu sangat dirasakan, baik oleh pewawancara maupun yang diwawancarai. Yang diwawancarai cenderung memperpendek wawancara dengan member jawaban-jawaban pendek. Dalam keadaan seperti itu, pewawancara harus memilih topik dengan sangat hati-hati agar mereka dapat tetap memusatkan wawancara pada tema pokok, dan bila masih ada waktu, hal-hal yang kurang penting dapat ditanyakan.

Ada jenis wawancara yang berkembang di Asia Tenggara

yaitu Wawancara naratif biografis yang merupakan bagian dari suatu proses analisis sosiologis yang intensif. Wawancara ini per se, dan proses sosiologis yang dimunculkannya, terkandung dalam perspektif teoritis tertentu mengenai realitas social. Realitas social diartikan sebagai sesuatu yang bisa ada karena karya konstruksi yang berkelanjutan oleh suartu jaringan interaktor. Selain itu, fenomena social, etnisitas, agama, bahasa merupakan hasil kreasi masyarakat. Para interaktor secara berkesinambungan menggunakan pengetahuan social yang tampak, tetapi tidak disadari, termasuk di dalamnya cara-cara memanfaatkan dunia sekelilingnya tanpa menyadari bahwa mereka juga menciptakannya.

Rekonstruksi sejarah pengalaman hidup juga dapat membantu

peneliti untuk mempermudah proses wawancara, Istilah kisah pengalaman hidup (life story) dan istilah sejarah pengalaman hidup ( life history) sering ditukar-tukar dalam penulisan ini, tetapi definisi dari Daniel Bertaux sangat bermanfaat karena dia mendifinisikan kisah hidup sebagai suatu cerita mengenai kehidupan seseorang yang disampaikan secara lisan oleh orang yang bersangkutan. Dengan bantuan alat perekam, peneliti tidak saja akan sanggup mendapatkan catatan lisan dari suatu wawancara, tetapi juga bisa menangkap nuansa karakter dan situasi yang menjadi tambahan dari makna kata-kata yang diucapkan. Definisi sejarah hidup merupakan suatu kisah kehidupan yang dilengkapi dengan informasi dari berbagai sumber lain, seperti wawancara dengan orang lain dan data biografis dari sumber lain.

Kisah pengalaman hidup dan sejarah pengalaman hidup merupakan suatu metodologi

penelitian yang dapat digunakan untuk melakukan analisis mendalam dan teoritis, sehingga dalam kesusastraan seni penulisan biografi adalah suatu aliran (genre) tersendiri yang pada akhirnya sebuah biografi harus bertujuan untuk memberi makna pada kehidupan subyek sesuai dengan konteks masyarakatnya dan bisa menemukan jati diri orang tersebut. Di Asia terdapat sedikit penulisan tentang biografi, itu disebabkan karena orang-orang lebih mengatasnamakan dirinya sebagai anggota kelompok mayarakat bukan berceria tentang pengalaman pribadinya, dalam hal ini menyangkut kepentingan pribadi seperti keluarga, organisasi ataupun pekerjaan.

Sumber : https://dosen.co.id/