Universitas Jember Teliti Cilok dan Bakso di Sekitar Kampus

Universitas Jember Teliti Cilok dan Bakso di Sekitar Kampus

Universitas Jember Teliti Cilok dan Bakso di Sekitar Kampus

Universitas Jember Teliti Cilok dan Bakso di Sekitar Kampus

Kelompok Riset Pangan ASUH (Aman Sehat Utuh Halal) Universitas Jember di Kabupaten Jember

, Jawa Timur, tahun ini meneliti jajanan cilok dan bakso yang menjadi kegemaran para mahasiswa.

Tim yang dipimpin Nurhayati, doktor ilmu pangan Fakultas Teknologi Pertanian ini, meneliti aspek kehalalan dan keamanan cilok maupun bakso. Sebelumnya tahun lalu mereka meneliti keamanan mutu air minum isi ulang di lingkar kampus Unej. Ini bagian dari ikhtiar Unej berkonstribusi dalam Gerakan Indonesia Sehat dengan berpedoman pada definisi pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal).

“Definisi pangan ASUH adalah pangan yang harus bebas dari kontaminasi berbahaya, baik kontaminasi fisik,

kimia atau biologis, memiliki nilai gizi yang tinggi, tidak tercampur bahan lain, dan diolah berdasarkan syariat Islam sehingga halal untuk dikonsumsi,” kata Nurhayati, Minggu (27/10/2019).
Baca Juga:

55 Tahun Universitas Jember, Luluskan 102 Ribu Sarjana
Tumpeng Nasi Raksasa, Lilin Ditiup Robot
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hadapi Empat Tantangan Global
Rayakan 10 November dengan Nasi Goreng dari Singkong di Universitas Jember
Universitas Jember Jawab Permintaan Khofifah Lewat Ide Ini

“Bisnis pangan tentunya akan senantiasa terus berkembang, seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi.

Namun juga harus disertai dengan kompetensi di bidang pangan,” kata Nurhayati.

Alumnus Himpunan Mahasiswa Islam ini mencontohkan Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti keracunan makanan atau minuman yang acap terjadi di masyarakat. Hal ini tak lepas dari kelalaian dalam pengolahan maupun penyajiannya.

“Kelalaian tersebut dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai konsep pangan ASUH. Karenanya perlu senantiasa ada penyuluhan-penyuluhan terkait seperti cara mengolah yang baik, maupun pola hidup bersih sehat,” kata Nurhayati.

Makanan dikonsumsi bukan hanya untuk mengobati lapar, tapi juga obat pada saat sakit. “Hal ini dimaksudkan agar makanan yang kita makan banyak mengandung zat gizi untuk menghasilkan tenaga dan untuk menyembuhkan diri, minimal mengganti sel tubuh yang usang layaknya sel darah merah yang senantiasa memerlukan pertumbuhan sel baru dari sel mati,” jelas Nurhayati.

“Keberadaan makanan juga tidak boleh menambah beban kerja bagian tubuh yang sakit sehingga jenis dan jumlahnya harus pas (diatur). Pemilihan bahan pangan yang tepat mampu menjadikan makanan sebagai obat,” kata Nurhayati. (

 

Baca Juga :